https://journal.upy.ac.id/index.php/pkn/article/view/4061
Artikel ini terbit di Jurnal Kewarganegaraan Universitas PGRI Yogyakarta. Jil. 6 No. 2 September 2022 P-ISSN: 1978-0184 E-ISSN: 2723-2328
Artikel ini terbit di Jurnal Kewarganegaraan Universitas PGRI Yogyakarta. Jil. 6 No. 2 September 2022 P-ISSN: 1978-0184 E-ISSN: 2723-2328
https://jurnal-stiepari.ac.id/index.php/sewagati/article/view/147
Artikel ini sudah terbit di SEWAGATI Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia. Vol.1, No.1 Maret 2022. e-ISSN: 2962-4126; p-ISSN: 2962-4495, Hal 01-10
bersama antar Kementerian Sosial, Kemendikbud Ristek dan Kemenag RI. Program ini memiliki
prinsip berdampak, inklusif dan kolaboratif. Pejuang muda diikuti oleh mahasiswa dari berbagai
lintas jurusan yang disebar dan ditempatkan di 34 provinsi dan 354 kabupaten/kota. Terdapat beberapa
kategori program yang dilakukan mahasiswa antara lain : 1. Pengembangan Program Bantuan Sosial.
2. Pemberdayaan Fakir Miskin dan Lanjut Usia. 3. Pola hidup sehat dan kesehatan lingkungan. 4.
Fasilitas untuk Kepentingan Umum Pembangunan. Dalam pelaksanaan dilapangan, mahasiswa
dibimbing oleh Mentor yang menyimpan kitf memberikan pembelajaraan musim berbagi,
pendampingan kegiatan dan penilaian kinerja mahasiswa melalui Tim Proyek Berbasis.
Metode pelaksanaan kegiatan melalui online dan offline. Tujuan pengabdian ini memastikan validasi
data yang benar dan sesuai terkait DTKS dari Pudatin Kemensos dan membantu meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Sanggau, Sekadau, Kapuas Hulu, Ketapang dan Kota
Singkawang Provinsi Kalimantan Barat.
Artikel ini sudah terbit di Jurnal Ilmiah Manajemen, Bisnis dan Kewirausahaan, Jil. 2 No.2 (2022): Juni
https://journal.sinov.id/index.php/jurimbik/article/view/129
Abstrak : Tujuan Penelitian Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh hubungan antara disipilin kerja pegawai dan kualitas pelayanan Kantor Pemerintahan Desa Kadugede terhadap kepuasan masyarakat Desa Kadugede. Jenis penelitian ini adalah asosiatif kausalitatif dengan pengumpulan data kuosioner 100 responden dari total 4514 penduduk Desa Kadugede, pengambilan sampel mengguakan metode sampling insidenta
Artikel ini telah dipublikasikan di Grup 4 di Asia Europe Student Exchange
Jerman merupakan negara yang disegani dalam berbagai bidang seperti pendidikan, teknologi, gaya hidup hingga sepak bola. Negara berbentuk Republik Federal ini terletak di jantung Eropa. Negara dengan demokrasi terbuka yang sangat up to date ini selalu menjadi penggerak gaya hidup dan budaya Eropa, bahkan mempengaruhi dunia.
Jerman adalah negara ekonomi paling kuat di dunia. Penduduk Jerman mencapai 82 juta orang. Ada berbagai industri kreatif dan kehidupan budaya yang berkembang dengan baik di Jerman. Jerman memiliki 370 universitas terkenal. Negara favorit untuk melanjutkan studi kuliah selain Amerika dan Inggris. Jerman telah menghasilkan 68 ilmuwan peraih Nobel. Atraksi ini membuat kami ingin melanjutkan studi master dan doktoral kami di negeri Tim Panzer.
Masalah
Jerman merupakan negara tersukses di Uni Eropa, namun memiliki masalah unik yang melingkupi masyarakatnya, yaitu masalah sampah. Pemerintah setempat dibuat bingung dengan keberadaan gunungan sampah di beberapa tempat. Masalah sampah harus segera diatasi, karena akan menimbulkan masalah lain yang lebih kompleks, tidak hanya terkait kebersihan lingkungan, tetapi juga masalah sosial.
Kementerian Lingkungan Jerman menjelaskan bahwa persyaratan hukum untuk pengelolaan limbah di semua negara bagian adalah sama, di bawah undang-undang federal. Jerman, yang memiliki 402 kota, memiliki aturan sendiri tentang bagaimana rumah tangga dan perusahaan harus menggunakan infrastruktur kota dan bertanggung jawab atas limbah yang mereka hasilkan.
Larutan
Langkah Inovasi
Ide Terkait Dan Relevan
Prospek Proyek
Masalah sampah merupakan masalah global yang terjadi di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Permasalahan tersebut dapat teratasi, salah satunya melalui pemanfaatan berbagai inovasi dan teknologi digital yang dapat mengubah permasalahan sampah menjadi peluang bisnis.
Di era pandemi saat ini, dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, menuntut dicarikan solusi yang tepat sasaran. Mayoritas masyarakat dunia telah menggunakan alat komunikasi digital kapanpun dan dimanapun. Aplikasi platform ReFood menjawab tantangan dalam masalah food waste.
Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diprakarsai
oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. Jerman
merupakan negara pertama yang membuat roadmap (grand design) tentang
implementasi ekonomi digital. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan peningkatan
digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor: (1) peningkatan volume
data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; (2) munculnya analisis, kemampuan,
dan kecerdasan bisnis; (3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan
mesin; dan (4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti
robotika dan 3D printing.
Era Revolusi Industri 4.0 ditandai oleh kecerdasan buatan
(artificial intelligence), super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano,
mobil otomatis, dan inovasi. Pada era ini semakin terlihat wujud dunia yang
telah menjadi kampung global. Revolusi Industri 4.0 memberikan dampak ekonomi,
industri, pemerintahan dan politik. Namun demikian, di sisi lain, revolusi
industri ini juga akan menghilangkan 800 juta lapangan kerja di seluruh dunia
sehingga diestimasi terjadi sampai tahun 2030 karena diambil alih oleh robot.
Hal ini bisa menjadi ancaman dunia termasuk bagi Indonesia sebagai negara yang
memiliki angkatan kerja dan angka pengangguran yang cukup tinggi.
Mencermati berbagai perubahan dan inovasi serta perkembangan
yang ada, Pemerintah Indonesia saat ini tengah melaksanakan langkah-langkah
strategis yang ditetapkan berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0.
Pemerintah dituntut menghasilkan sumber daya manusia berkualitas melalui proses
Pendidikan yang berkualitas dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
hingga Perguruan Tinggi. Maka, hadirlah kebijakan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan tentang Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, guna menjawab tuntutan
perubahan pada era revolusi industri 4.0.
Era Society 5.0
Hadirnya era revolusi industri 4.0 (the industrial revolution
4.0.) yang menawarkan literasi baru yakni data, technology, and human
literation, sebagai sebuah tesis baru era teknologi digital, sejak tahun 2018
muncul “anti tesis” dari Jepang yang lebih menjunjung “manusia” di samping
terjadinya revolusi data dan teknologi. Menurut Kantor Kabinet Jepang, Society
5.0 didefinisikan sebagai sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang
menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui
sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik.
Society 5.0 dimunculkan Jepang sebagai implementasi Rencana
Dasar Sains dan Teknologi ke-5 sebagai masyarakat masa depan yang harus dicita
– citakan oleh Jepang. Mereka ingin menjawab dan melompati isue yang berkembang
dari Eropa ke seluruh dunia tentang revolusi industri 4.0 yang dinilainya akan
menghilangkan peran masyarakat manusia dengan digantikan oleh teknologi.
Selanjutnya, mereka membagi lima tahapan kehidupan yakni diawali dengan
masyarakat berburu (Society 1.0), masyarakat pertanian (Society 2.0),
masyarakat industri (Society 3.0), masyarakat informasi (Society 4.0), dan
masyarakat konvergensi maya-fisik (Society 5.0). Tujuan dari konsep ini sendiri
adalah mewujudkan masyarakat dimana manusia-manusia di dalamnya benar-benar
menikmati hidup dan merasa nyaman. Society 5.0 sendiri baru diresmikan pada 21
Januari 2019 dan dibuat sebagai solusi atas revolusi industri 4.0 yang ditakutkan
akan mendegradasi umat manusia. Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat
menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan
berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industry 4.0 seperti Internet on
Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan
buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan
kualitas hidup manusia.
Sebenarnya konsep revolusi 4.0 dan Society 5.0 tidak memiliki
perbedaan yang jauh. Hanya saja konsep Society 5.0 lebih memfokuskan konteks
terhadap manusia. Jika Revolusi industry 4.0 menggunakan kecerdasan buatan
sebagai komponen utama dalam membuat perubahan di masa yang akan datang, maka
Society 5.0 menggunakan teknologi modern hanya saja mengandalkan manusia
sebagai komponen utamanya. Society 4.0 memungkinkan kita untuk mengakses juga
membagikan informasi di internet. Society 5.0 adalah era dimana semua teknologi
adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet bukan hanya sekedar untuk
berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan.
Kesiapan Pendidikan di Indonesia
Pada era revolusi industri 4.0 diperlukan tiga literasi yaitu
literasi data, literasi manusia, dan literasi teknologi. Pembelajaran di era
revolusi 4.0 dapat menerapkan hybrid/blended learning dan Case-base Learning.
Pendidikan dalam era Society 5.0, memungkinkan peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran berdampingan dengan robot. Tantangan pasti akan dihadapi dalam
setiap transisi inovasi dan teknologi. Kita harus berani dan siap, jika tidak,
maka kita akan tenggelam oleh disrupsi ini. Lalu, bagaimana dengan kesiapan
pendidikan di Indonesia?
Trand pendidikan Indonesia saat ini yaitu online learning yang
menggunakan internet sebagai penghubung antara pendidik dan peserta didik.
Peran pendidik dalam era Revolusi Industri 4.0 harus diwaspadai, para pendidik
tidak boleh hanya menitikberatkan tugasnya hanya dalam transfer ilmu, namun
lebih menekankan pendidikan karakter, moral dan keteladanan. Hal ini
dikarenakan transfer ilmu dapat digantikan oleh teknologi, namun penerapan
softskill dan hardskill tidak bisa digantikan dengan alat dan teknologi
secanggih apapun. Dengan lahirnya Society 5.0 diharapkan dapat membuat
teknologi di bidang pendidikan yang tidak merubah peran pendidik dalam mengajarkan
pendidikan moral dan keteladanan bagi para peserta didik. Untuk mewujudkan
cita-cita Making Indonesia 4.0, harus ada wujud konkret dan usaha yang keras
untuk pemerintah Indonesia dan kita semua dalam menyongsong era digitalisasi.
Pendidikan di Indonesia perlu melihat kembali infrastruktur yang ada,
pengembangan SDM, menyinkronkan pendidikan dan industri, serta penggunaan
teknologi sebagai alat kegiatan belajar mengajar. Sedangkan, untuk menghasilkan
lulusan yang berkualitas, Perguruan Tinggi mesti memperhatikan empat hal yaitu
pendidikan berbasis kompetensi, pemanfaatan IoT (internet of things),
pemanfaatan virtual atau augmented reality dan yang terakhir pemanfaatan AI
(artifical intelligence). Dengan begitu, diharapkan pendidikan di Indonesia
telah siap memasuki era disrupsi ini.
Revolusi generasi 1.0 melahirkan sejarah ketika tenaga manusia
dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan
mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek
naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi
Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di
dunia menjadi enam kali lipat.
Revolusi Industri 2.0, juga dikenal
sebagai Revolusi Teknologi adalah sebuah fase pesatnya industrialisasi
di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Revolusi Industri 1.0 yang
berakhir pertengahan tahun 1800-an, diselingi oleh perlambatan dalam penemuan
makro sebelum Revolusi Industri 2.0 muncul tahun 1870.
Meskipun sejumlah karakteristik kejadiannya dapat ditelusuri
melalui inovasi sebelumnya di bidang manufaktur, seperti
pembuatan alat mesin industri, pengembangan metode untuk
pembuatan bagian suku cadang, dan penemuan Proses
Bessemer untuk menghasilkan baja, Revolusi Industri 2.0 umumnya
dimulai tahun 1870 hingga 1914, awal Perang Dunia I.
Revolusi industri generasi 2.0 ditandai dengan kemunculan
pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber).
Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll
yang mengubah wajah dunia secara signifikan.
Kemunculan teknologi digital dan internet menandai dimualinya
Revolusi Indusri 3.0. Proses revolusi industri ini kalau dikaji dari cara
pandang sosiolog Inggris David Harvey sebagai proses pemampatan ruang dan
waktu. Ruang dan waktu seamkin terkompresi. Dan, ini memuncak pada revolusi
tahap 3.0, yakni revolusi digital. Waktu dan ruang tidak lagi berjarak.
Revolusi kedua dengan hadirnya mobil membuat waktu dan jarak makin dekat.
Revolusi 3.0 menyatukan keduanya. Sebab itu, era digital sekarang mengusung
sisi kekinian (real time).
Selain mengusung kekinian, revolusi industri 3.0 mengubah pola
relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Praktik bisnis pun mau tidak mau
harus berubah agar tidak tertelan zaman. Namun, revolusi industri ketiga juga
memiliki sisi yang layak diwaspadai. Teknologi membuat pabrik-pabrik dan mesin
industri lebih memilih mesin ketimbang manusia. Apalagi mesin canggih memiliki
kemampuan berproduksi lebih berlipat. Konsekuensinya, pengurangan tenaga kerja
manusia tidak terelakkan. Selain itu, reproduksi pun mempunyai kekuatan luar
biasa. Hanya dalam hitungan jam, banyak produk dihasilkan. Jauh sekali bila
dilakukan oleh tenaga manusia.
Lalu Pada revolusi industri generasi 4.0, manusia telah
menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptivetechnology) hadir
begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent.
Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban
dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.
Lebih dari itu, pada era industri generasi 4.0 ini, ukuran besar
perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci
keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang
mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau
Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini
membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar
memangsa yang kecil.
Kalau kita perhatikan tahap revolusi dari masa ke mas timbul
akibat dari manusia yang terus mencari cara termudah untuk beraktifitas. Setiap
tahap menimbulkan konsekuensi pergerakan yang semakim cepat. Perubahan adalah
keniscayaan dalam kehidupan umat manusia.
Adversity Quotient sering disingkat AQ merupakan
istilah baru kecerdasan manusia yang diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz pada
tahun 1997 dalam bukunya berjudul Adversity Quotient : Turning Obstacle into
Opportunities. Kata adversity berasal dari bahasa Inggris yang bermakna
kegagalan atau kemalangan. Menurut Stoltz (2000:9), adversity quotient (AQ)
adalah kecerdasan seseorang dalam menghadapi rintangan atau kesulitan secara
teratur. Adversity quotient membantu individu memperkuat kemampuan dan
ketekunan dalam menghadapi tantangan hidup sehari-sehari.
Kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan
emosional (EQ) yang pada masa lalu dianggap sebagai faktor utama bagi seseorang
dalam meraih sukses, sudah tak mampu lagi dijadikan pijakan. Hal ini karena
ternyata banyak ditermukan sebuah realitas yang menunjukkan bahwa orang-orang
yang memiliki IQ maupun EQ yang tinggi pun banyak yang mengalami kegagalan.
Namun demikian ia tak menampik bahwa kedua jenis kecerdasan tersebut memiliki
peran. Hanya saja, ia mempertanyakan mengapa ada orang yang mampu bertahan dan
terus maju, ketika banyak dari yang lain terhempas ketika diterpa badai
kesulitan, padahal mungkin diantara mereka sama-sama brilian dan pandai
bergaul. Disinilah menurut Stoltz, Adversity Quotient menjadi pembeda diantara
mereka (Stoltz, 2000:17-20).
Berikut ini beberapa pengertian Adversity Quotient
(AQ) dari beberapa sumber buku referensi:
enurut Leman (2007:115), adversity quotient secara
ringkas, yaitu sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah. Beberapa
definisi di atas yang cukup beragam, terdapat fokus atau titik tekan, yaitu
kemampuan yang dimiliki seseorang, baik fisik ataupun psikis dalam menghadapi
problematika atau permasalahan yang sedang dialami.
Menurut Nashori (2007:47), adversity quotient
merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya untuk
mengarahkan, mengubah cara berfikir dan tindakannya ketika menghadapi hambatan
dan kesulitan yang bisa menyengsarakan dirinya.
Menurut Wangsadinata dan Suprayitno (2008),
Adversity Quotient adalah suatu kemampuan atau kecerdasan ketangguhan berupa
seberapa baik individu bertahan atas cobaan yang dialami dan seberapa baik
kemampuan individu dapat mengatasinya.
toltz (2000:102) membagi empat aspek atau dimensi
dasar yang akan menghasilkan kemampuan adversity quotient yang tinggi yang
kemudian disingkat menjadi CO2RE (Control, Origin, Ownership, Reach, Endurance)
a. Control (kendali)
Control atau kendali adalah kemampuan seseorang
dalam mengendalikan dan mengelola sebuah peristiwa yang menimbulkan kesulitan
di masa mendatang. Kendali diri ini akan berdampak pada tindakan selanjutnya
atau respon yang dilakukan individu bersangkutan, tentang harapan dan idealitas
individu untuk tetap berusaha keras mewujudkan keinginannya walau sesulit
apapun keadaannya sekarang.
b. Origin (asal-usul) dan ownership (pengakuan)
Sejauh mana seseorang mempermasalahkan dirinya
ketika mendapati bahwa kesalahan tersebut berasal dari dirinya, atau sejauh
mana seseorang mempermasalahkan orang lain atau lingkungan yang menjadi sumber
kesulitan atau kegagalan seseorang. Rasa bersalah yang tepat akan menggugah
seseorang untuk bertindak sedangkan rasa bersalah yang terlampau besar akan
menciptakan kelumpuhan. Poin ini merupakan pembukaan dari poin ownership.
Ownership mengungkap sejauh mana seseorang mengakui akibat-akibat kesulitan dan
kesediaan seseorang untuk bertanggung jawab atas kesalahan atau kegagalan
tersebut.
Sejauh mana kesulitan ini akan merambah kehidupan
seseorang menunjukkan bagaimana suatu masalah mengganggu aktivitas lainnya,
sekalipun tidak berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi. Adversity
quotient yang rendah pada individu akan membuat kesulitan merembes ke segi-segi
lain dari kehidupan seseorang.
Endurance adalah aspek ketahanan individu. Sejauh
mana kecepatan dan ketepatan seseorang dalam memecahkan masalah. Sehingga pada
aspek ini dapat dilihat berapa lama kesulitan akan berlangsung dan berapa lama
penyebab kesulitan itu akan berlangsung. Hal ini berkaitan dengan pandangan
individu terhadap kepermanenan dan ketemporeran kesulitan yang berlangsung.
Efek dari aspek ini adalah pada harapan tentang baik atau buruknya keadaan masa
depan. Makin tinggi daya tahan seseorang, makin mampu menghadapi berbagai
kesukaran yang dihadapinya.
Faktor-faktor pembentuk adversity quotient adalah
sebagai berikut (Stoltz, 2000:92):
Daya saing.
Produktivitas.
Motivasi.
Mengambil risiko.
Perbaikan.
Ketekunan.
Belajar.
a. Listened (dengar)
b. Explored (gali)
c. Analized (analis)
d. Do (lakukan)
* Mata Kuliah Dr. Muhamad Ridwan, MM STIE Ganesha Jakarta
Variasi definisi dan ukuran komitmen organisasi sangat luas. Sebagai sikap, komitmen organisasi paling sering didefinisikan sebagai (1) keinginan kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu; (2) keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi; (3) keyakinan tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dengan kata lain, ini merupakan sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan dimana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan (Fred Luthan, 2006:249).
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia No.25/KEP/M.PAN/2002 menyatakan pengertian komitmen adalah keteguhan hati, tekad yang mantap, dan janji untuk melakukan atau mewujudkan sesuatu yang diyakini. Komitmen organisasi mencerminkan sejauh mana seorang individu mengidentifikasi organisasi dan tujuannya (Kreitner & Kinicki, 2008).
Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan komitmen sebagai suatu keadaan dimana seorang individu memihak organisasi serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keangotaannya dalam organisasi. Mathis dan Jackson (dalam Sopiah, 2008 : 155) mendefinisikan komitmen organisasional sebagai derajad dimana karyawan percaya dan mau menerima tujuan-tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasinya.
Sedangkan Luthans (2006) menyebutkan bahwa komitmen organisasi adalah keinginan kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu, keinginan untuk berusaha keras sesuai dengan keinginan organisasi dan keyakinan tertentu juga penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dari pengertian tersebut dapat diartikan komitmen organisasi merupakan sikap yang menunjukan loyalitas seseorang pada suatu organisasi dan juga proses yang berkelanjutan dimana seseorang mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi.
Komitmen organisasi menurut Rivai (dalam Octavia, 2006) didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu.
Menurut Wati (2013) komitmen organisasi adalah derajat sejauh mana keterlibatan seseorang dalam organisasinya dan kekuatan identifikasinya terhadap suatu organisasi tertentu. Komitmen organisasi juga ditandai dengan tiga hal, yaitu suatu kepercayaan yang kuat terhadap organisasi juga penerimaan terhadap tujuan- tujuan dan nilai-nilai sebuah organisasi, keinginan kuat untuk memelihara hubungan yang kuat dengan organisasi dan kesiapan serta kesediaan untuk menyerahkan usaha keras demi kepentingan organisasi. Berdasarkan pengertian tersebut pemerintah daerah yang memiliki komitmen terhadap organisasinya akan lebih dapat bertahan sebagai bagian dari organisasi dibandingkan dengan pemerintah daerah yang tidak memiliki komitmen terhadap organisasinya.
Mathins dan Jackson (2006; 122) mengemukakan bahwa komitmen organisasi adalah tingkat sampai dimana seorang karyawan yakin dan menerima tujuan organisasional serta berkeinginan untuk tinggal bersama organisasi tersebut. Dengan adanya komitmen seorang pemerintah daerah, maka ia akan memiliki sikap loyalitas juga berkeinginan untuk mencapai tujuan organisasinya dengan baik. Komitmen organisasi juga dapat diartikan sebagai derajat dimana seseorang terlibat dalam organisasinya dan berkeinginan untuk tetap menjadi anggotanya, dimana di dalamnya mengandung sikap kesetiaan dan kesediaan seseorang untuk bekerja secara maksimal bagi organisasi tempat seorang tersebut bekerja. Komitmen yang tinggi menjadikan seseorang lebih mementingkan organisasi dari pada kepentingan pribadi dan berusaha menjadikan organisasi menjadi lebih baik. Komitmen organisasi yang rendah akan membuat seseorang untuk berbuat demi kepentingan pribadinya (Greenberg dan Baron, 2003; 160).
Konopaske, Ivancevichn dan Matteson (2007; 234) menyatakan bahwa komitmen terhadap organisasi melibatkan tiga sikap, yaitu identifikasi dengan tujuan organisasi, perasaan keterlibatan dalam tugas–tugas organisasi, dan perasaan setia terhadap organisasi. Pekerjaan yang menjadi tugasnya dipahami sebagai kepentingan pribadi, dan memiliki keinginan untuk selalu loyal demi kemajuan organisasi.
Selanjutnya McShane dan Von Glinow (2008; 119) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai pengaruh yang paling kuat, dimana orang mengidentifikasi terhadap permintaan dan sangat termotivasi untuk melaksanakannya, bahkan ketika sumber motivasi tidak lagi hadir. Komitmen organisasi juga mengacu kepada ikatan emosional seorang pemerintah daerah untuk diidentifikasi dan keterlibatan dalam organisasi tertentu.
Ciri-ciri Komitmen Organisasi
Menurut Porter (Koentjoro,
2002) juga menyatakan bahwa anggota yang memiliki komitmen organisasi ditandai
dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Penerimaan terhadap
nilai-nilai dan tujuan organisasi.
b. Kesiapan dan kesedian untuk
berusaha dengan sungguh-sungguh atas nama organisasi
c. Keinginan untuk
mempertahankan keanggotaan didalan organisasi (menjadi bagian dari
organisasi).
Dimensi Komitmen
Dikarenakan komitmen organisasi bersifat multidimensi, maka terdapat perkembangan untuk tiga model komponen yang diajukan oleh Meyer dan Allen (dalam Luthan, 2006:249). Ketiga dimensi tersebut akan dijelaskan di bawah ini.
1. Komitmen Afektif
Merupakan keterikatan emosional
karyawan, identifikasi, dan keterlibatan dalam organisasi..
2. Komitmen Kelanjutan
Merupakan komitmen berdasarkan
kerugian yang berhubungan dengan keluarnya karyawan dari organisasi. Hal ini
mungkin karena kehilangan senioritas atas promosi atau benefit.
3. Komitmen Normatif
merupakan perasaan wajib untuk
tetap berada dalam organisasi karena memang harus begitu; tindakan tersebut
merupakan hal benar yang harus dilakukan.
Robbins (2008; 101) mengelompokan komitmen organisasi dengan tiga indikator yang terpisah, yaitu :
1. Komitmen Afektif (Affective Commitment)
Komitmen afektif merupakan
perasaan emosional untuk organisasi dan keyakinan di dalam nilai-nilainya.
Seseorang yang memiliki komitmen afektif yang kuat akan terus bekerja dalam
suatu organisasi karena mereka memang ingin melakukan hal tersebut.
2. Komitmen Berkelanjutan
(Continuance Commitment) Komitmen berkelanjutan merupakan nilai ekonomi yang
dirasakan dari bertahan dalam suatu organisasi dibandingkan dengan
meninggalkan organisasi tersebut. Seorang karyawan mungkin bertahan dan
berkomitmen dengan organisasi dan pemberi kerja karena diberi imbalan yang
cukup tinggi. Komitmen ini menyebabkan seorang karyawan bertahan pada suatu
organisasi karena mereka membutuhkannya.
3. Komitmen Normatif (Normative
Commitment) Komitmen normatif merupakan kewajiban seseorang untuk
bertahan di dalam suatu organisasi untuk alasan-alasan moral atau etis.
Komitmen ini menyebabkan seorang karyawan bertahan pada suatu pekerjaan karena
mereka merasa wajib untuk melakukannya. Dengan kata lain, komitmen normatif ini
berkaitan dengan perasaan wajib untuk tetap bekerja dalam sebuah
organisasi.
Komitmen afektif (Affective Commitment), komitmen berkelanjutan (Continuance Commitment), dan komitmen normatif (Normative Commitment), dapat digunakan dalam menguji komitmen organisasi pada pemerintah daerah. Seorang aparatur pemerintah daerah yang berkerja dalam suatu organisasi harus memiliki komitmen dalam menjalankan tugasnya. Komitmen seorang aparatur pemerintah daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perasaan emosional untuk organisasi juga keyakinan di dalam nilai-nilainya, nilai ekonomi yang dirasakan oleh seorang aparatur pemerintah daerah tersebut dalam bertahan di organisasinya dan juga adanya alasan-alasan moral atau etis (Robbins, 2008; 103)
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen
Komitmen pegawai pada organisasi tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap. Steers (dalam Sopiah, 2008) menyatakan ada tiga faktor yang mempengaruhi komitmen seorang karyawan. Berikut ini adalah ketiga faktor tersebut.
• Ciri pribadi pekerja termasuk
masa jabatannya dalam organisasi, dan variasi kebutuhan dan keinginan yang
berbeda dari tiap karyawan. Ciri pekerjaan, seperti identitas tugas dan
kesempatan berinteraksi dengan rekan sekerja.
• Pengalaman kerja, seperti
keterandalan organisasi di masa lampau dan cara pekerja-pekerja lain
mengutarakan dan membicarakan perasaannya tentang organisasi.
David (dalam Sopiah, 2008:163) mengemukakan ada empat faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan. Berikut ini adalah keempat faktor tersebut.
1. Faktor personal, misalnya
usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan kepribadian.
2. Karakteristik pekerjaan,
misalnya lingkup jabatan, tantangan dalam pekerjaan, konflik peran,
tingkat kesulitan dalam pekerjaan.
3. Karakteristik struktur,
misalnya besar kecilnya organisasi, bentuk organisasi, kehadiran serikat
pekerjan, dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi
terhadap karyawan.
4. Pengalaman kerja. Pengalaman
kerja seorang karyawan sangat berpengaruh terhadap tingkat komitmen
karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja
dan karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam organisasi tentu
memiliki tingkat komitmen yang berlainan.
Stum (dalam Sopiah, 2008:164) mengemukakan ada 5 faktor yang berpengaruh terhadap komitmen organisasi:
1. budaya keterbukaan,
2. kepuasan kerja,
3. kesempatan personal untuk
berkembang,
4. arah organisasi,
5. penghargaan kerja yang
sesuai dengan kebutuhan.
Luthans (2006; 249) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi diantaranya, yaitu :
1. Variabel orang Variabel
orang ini meliputi usia, kedudukan dalam organisasi dan di posisi seperti
efektivitas positif atau negatif, atau atribusi kontrol internal dan eksternal.
2. Variabel organisasi Variabel
organisasi meliputi desain pekerjaan, nilai, dukungan dan gaya kepemimpinan
penyelia.
3. Variabel non-organisasi
Variabel non-organisasi yaitu adanya alternatif lain setelah memutuskan untuk
bergabung dengan organisasi akan mempengaruhi komitmen selanjutnya.
Menurut Staw (Wijayanti, 2002) komitmen organisasi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a. Karakteristik personal,
yaitu kondisi potensi, kapasitas kemampuan dan kemauan seorang anggota dengan
kebutuhan organisasi. Suatu organisasi mencari calon anggota dengan potensi,
kapasitas kemampuan dan kemampuan bekerja sama yang
baik.
b. Karakteristik organisasi
antara lain menyangkut :
1) Desentralisasi dan otonomi
tanggung jawab. Organisasi sentralistik dengan segala keputusan ditentukan dari
atas, ternyata kurang efektif dalam operasional sehari-hari. Jenjang struktural
yang terlalu rumit dan birokratis membuat organisasi kerja kurang efektif.
Mekanisme sistem kerja yang jelas dan tugas optimalisasi fungsi pemberdayaan
antar bagian dan desentralisasi wewenang berkorelasi positif terhadap komitmen
2) Partisipasi aktif, ikut
berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan termasuk dalam pengambilan keputusan
dan rasa kepemilikan, berkorelasi positif dengan komitmen.
3) Hubungan yang baik antar
anggota satu sama lain. Apabila kualitas hubungan baik, seringkali terjadi
diskusi tentang penyelesaian permasalahan dalam organisasi.
c. Karakteristik pengalaman
berorganisasi, pengalaman berorganisasi dapat mempengaruhi komitmen organisasi
kerena anggota akan mengetahui sajauh mana anggota merasakan: 1) sikap positif
kelompoknya terhadap tempat berorganisasi; 2) dirinya penting bagi
organisasinya.
Berdasarkan uraian diatas ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi tinggi rendahnya komitmen organisasi baik itu dari anggota itu sendiri, karakteristik pekerjaan, karakteristik organisasi dan karakteristik pengalaman berorganisasi. Di samping hal itu komitmen organisasi juga dipengaruhi oleh persepsi anggota terhadap seberapa tinggi komitmen yang ditunjukkan organisasi terhadap anggota itu sendiri.
Aspek-aspek dalam Komitmen Organisasi
Menurut Koentjoro (2002) komitmen organisasi memiliki tiga aspek penting yaitu:
a. Identifikasi
Identifikasi terbentuk dalam
kepercayaan anggota terhadap organisasi, dapat dilakukan dengan memodifikasi
tujuan organisasi, sehingga mencakup beberapa tujuan pribadi para anggota atau
dengan kata lain organisasi memasukkan pula kebutuhan dan keinginan anggota
dengan organisasi. Hal ini akan menghasilkan suasana yang saling mendukung
diantara para anggota dengan organisasi, suasana tersebut juga akan membawa
anggota dengan rela menyumbangkan sesuatu bagi tercapainya tujuan organisasi,
karena anggota juga menerima tujuan orgnisasi yang dipercayai telah disusun
demi terpenuhinya kebutuhan pribadi.
b. Keterlibatan
Keterlibatan atau partisipasi
anggota dalam aktivitas-aktivitas kerja penting untuk diperhatikan karena
adanya keterlibatan anggota menyebabkan mereka akan mau dan senang bekerja sama
dengan anggota yang lain. Salah satu cara yang dapat memancing keterlibatan
anggota adalah dengan mamancing partisipasi mereka dalam berbagai kesempatan
pengambilan keputusan, yang dapat menumbuhkan keyakinan pada anggota bahwa apa
yang telah diputuskan adalah merupakan keputusan bersama. Disamping itu, dengan
melakukan hal tersebut maka anggota merasakan bahwa mereka diterima
sebagai bagian yang utuh dari organisasi, dan konsekuensi lebih lanjut, mereka
merasa wajib untuk melaksanakan bersama apa yang telah diputuskan karena adanya
rasa keterikatan dengan apa yang mereka ciptakan.
Menurut Beynon (Koentjoro,
2002) mengatakan bahwa partisipasi akan meningkat apabila mereka menghadapi
suatu situasi yang penting untuk mereka diskusikan bersama, dan salah satu
situasi yang perlu didiskusikan bersama tersebut adalah kebutuhan serta
kepentingan pribadi yang ingin dicapai oleh anggota dalam organisasi. Apabila
kebutuhan tersebut dapat terpenuhi hingga anggota memperoleh kepuasan, maka
anggotapun akan menyadari pentingnya memiliki kesediaan untuk menyumbangkan
usaha dan kontribusi bagi kepentingan organisasi. Sebab hanya dengan pencapaian
kepentingan orgnisasilah, kepentingan anggota akan lebih terpuaskan.
c. Loyalitas
Loyalitas anggota terhadap
organisasi memiliki makna kesediaan seseorang untuk melanggengkan hubungan
dengan organisasi, bila perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa
mengharapkan apapun. Kesediaan anggota untuk mempertahankan diri dalam
organisasi adalah hal yang penting dalam menunjang komitemen anggota terhadap
organisasi dimana mereka berorganisasi. Hal ini dapat diupayakan apabila
anggota merasakan adanya keamanan dan kepuasan didalam organisasi tempat ia
bergabung.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada tiga aspek penting dalam komitmen organisasi yaitu identifikasi, keterlibatan dan loyalitas. Ketiga aspek ini sangat penting untuk menumbuhkan komitmen anggota dalam rangka pencapaian tujuan baik organisasi maupun anggota itu sendiri.