Selasa, 04 Oktober 2016

Fenomena Sosial Padepokan Gatot Dan Kanjeng Dimas; Antara Logika Dan Nurani

Saat ini kita dijejali dengan berbagai fenomena sosial yang menohok hati, mengiris logika pikir yang ada, fenomena sosial yang dibalut dengan kemasan agama. Fenomena sosial adalah gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dalam kehidupan sosial. Menurut Soerjono Soekanto Fenomena Sosial atau masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.
Fenomena munculnya padepokan Gatot Brajamusti yang diyakini oleh pengikutnya sebagai tempat berlatih diri menempa batin dan menyatu dengan alam, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Ilahi Rabbi, nyatanya hanya kedok belaka. Jualan agama menjadi daya tarik awal, terlebih bagi golongan tertentu artis jet set yang notabena kekeringan dari sisi spritual.
Terungkap padepokan ini menjadi sarang peredaran obat terlarang NARKOBA dan ajang pesta seks. Terlebih pasca imam padepokan tertangkap AA Gatot biasa disebut, terbuka semua kamuflasenya.
Yang terbaru muncul masih hangat dalam perbincangan mulut dan berita, padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi, manusia yang satu ini muncul geger tatkala tertangkap oleh aparat Kepolisian terkait laporan dan dugaan pembunuhan terhadap pengikutnya. Selain itu dugaan penipuan penggandaan uang terhadap jamaahnya. Padepokan kanjeng Dimas ini bertujuan suci dan luhur, dengan niat membantu anak fakir miskin dan yatim agar tercapai kesejahteraan nya.
Dua fenomena ini, hemat penulis masing masing menggunakan jargon agama, atau hal hal yang terkait dengan pemberdayaan keimanan dan ketakwaan. Membangun suatu majlis atau padepokan didasari niat awal tadi dengan harapan dapat menarik jamaah. Dan trik ini berhasil dilakukan oleh Gatot dan Taat Pribadi. Hingga lambat laun memiliki pengikut dan jamaah yang siap menuruti apa kata sang Imam tersebut.
Dua hal yang berbeda akibat perbuatan masing masing namun terdapat kesimpulan yang sama, telah terjadi upaya “kapitalisi agama” yang berkedok ke-Islaman-an. Dalam bahasa al-Qur`an ada peringatan mengenai larangan “menjual agama” sebagaimana tertera dalam firman Allah pada surat al-Baqarah 41: ”Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah”. 
Sungguh ironis Al Qur’an sebagai kitab suci nekat diterabas hanya karena dorongan ingin mendapat materi duniawi. Posisi ini memperlihatkan ‘agama’ menjadi komoditi. Kesuciannya ternodai oleh arogansi nafsu yang tidak terkontrol. Sungguh terlalu…!!
Kejadian ini merupakan tragedi sosial, ada apa dengan kita, kenapa ingin mengambil dengan cara yang instan ingin menggandakan uang tanpa harus kerja dan usaha. Tanpa melewati proses ikhtiar mendapatkan uang tersebut
Secara sosial, kasus ini merupakan pelajaran yang harus di cermati, dijadikan pelajaran. Secara hukum pelaku nya harus diadili sesuai koridor hukum yang berlaku.
Secara politik, meski tidak secara kasat mata ada kaitan, namun mempengaruhi stabilitas sektor keuangan bila kasus penggandaan uang tidak cepat diselesaikan. Akan terjadi kegaduhan politik di masyarakat atas dan bawah. Dan akan mempengaruhi kebijakan publik yang diterapkan juga.
Isu kanjeng ini menarik para politisi di DPR sehingga harus menjadwalkan kunjngan komisi 3 bagian hukum ke padepokan, melihat dan mencari bahkan kalo perlu bikin Pansus khusus Dimas kanjeng..... Duhh, serasa gimana gitu perhatiannya...

Rupanya Dimas Kanjeng menggunakan tokoh publik dalam menarik jamaahnya, pose bareng presiden, wapres, kapolri, panglima TNI agar dikesankan akrab dengan pejabat (masih perlu dilacak kebenarannya). Sampe tokoh cendekiawan semacam Yunda Marwah Daud Ibrahim pun siap pasang badan menjadi tameng padepokan ini. Ia meyakini segala ucapan dan tindakan Dimas Kanjeng benar dan memiliki karomah yang nyata.

Bersambung.....

Tidak ada komentar: